Cari Blog Ini

Sabtu, 27 Februari 2016

CONTOH KULTUM TERBARU



ASSALAMU’ALAIKUM  WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

          Alhamdulillah pertama-tama mari kita panjatkan rasa syukur kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahnya kita masih di beri kesempatan untuk berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Tak lupa shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW, sahabat, keluarga, dan umatnya yang insyaallah termasuk kita semua. Amin.
Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan kultum yang berjudul ‘’TIPE ORANG YANG DI SENANGI ALLAH’’
Allah merupakan dzat yang maha kuasa, tidak ada suatu mahluk pun yang dapat menandingi kekuasaan-Nya karena sejatinya semua mahluk yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT, mulai dari yang dapat kita lihat seperti tumbuhan, hewan, manusia, benda-benda mati. Hingga yang bersifat ghaib seperti malaikat, syetan, surga, neraka dan masih banyak lagi lainnya.
Allah juga merupakan dzat yang maha mengasih lagi maha penyayang seperti yang sudah di tuliskan dalam surah Al-fatikhah. Tidak peduli orang itu muslim atau kafir, allah tetap memberi dan menyayangi mereka.
Namun ada golongan-golongan orang yang di senangi oleh Allah, lalu golongan-golongan yang seperti apa yang di sukai oleh allah tersebut?

1.     1.  “Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Ali imran : 134)
       Berbuat baik itu mudah bagi kebanyakan orang, namun yang perlu kita perhatikan adalah apa landasan kita berbuat baik tersebut. Apakah hanya untuk pamer kepada orang-orang di sekitar kita? Apakah hanya untuk mendapat pujian? Ataukah karena ada seorang yang spesial sedang melihat kita? Tentu hal yang demikian itu bukanya di senangi Allah melainkan malah tidak di sukai Allah. Luruskan niat dalam berbuat baik hanya untuk mendapat ridho Allah, berbuaat baiklah kepada siapa saja tanpa memandang siapa orang itu. Kemudian berbuat baiklah kepada orang yang jahat kepada kita, hal itu memang sulit. Namun itulah sebenarnya kebaikan sejati yang sangat di senangi oleh Allah.
       Bila kita ingat, Rasulullah dulu sering di ludahi oleh seseorag yang tidak senang dengan Beliau, setiap hari jika Rasulullah lewat ke jalan yang sama pasti mendapat perlakuan yang sama dari orang tersebut. Namun Rasulullah tetap tenang dan tidak menanggapi, hingga tiba saat orang yang sering meludahi Rasulullah tersebut sakit dan Rasulllah menjenguk orang tersebut. Betapa kaget bercampur malu orang tersebut karena dia yang selama masa sehatnya di lakukan untuk berbuat jahat kepada Rasulullah namun yang di lakukan Rasulullah malah sebaliknya. Itu merupakan contoh yang sangat baik untuk kita terapkan dalam kehidupan kita. Berbuat baiklah kepada seseorang meskipun orang itu jahat kepada kita.

2.       2.  “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (Ali imran : 146)
       Sabar itu adalah istilah wajib untuk setiap muslim, karena ada istilah “orang sabar di sayang Allah” dan istilah itu memanglah tidak main-main. Namun kita juga sering mendengar kata “sabar itu ada batasnya”, setelah mengucap kata itu biasanya seseorang yang awalnya sabar jadi tidak sabar, dan melampiaskan ketidak sabaranannya itu seolah rasa yang tadinya dia simpan sebagai perwujudan sabar hanya untuk mengumpulkan emosinya kemudian di curahkan saat dia bilang “sabar ada batasnya”. Namun tentunya kita bisa memahami bahwa kata sabar itu adalah tidak terbatas, jadi kalau kita bilang “sabar itu ada batasnya” maka dalam hal itu kita belum bisa dikatakan sebagai orang yang sabar.
        Seperti dalam kisah Rasulullah dan seorang yang meludahi beliau tadi. Kejadian itu berulang tidak hanya sekali, namun berkali-kali. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau hanya membiarkannya sebagai perwujutan rasa sabar, sampai kapan? Sampai tiba waktunya  menuai sabar yang kita lakukan. Jika sabar ada batasnya tentu dalam kisah tadi Rasulullah tidak tahan dan membalas orang tersebut. Namun karena sabar itu tak terbatas, hingga tiba saat dimana Beliau menuai hasil sabarnya itu saat seseorang itu merasa malu dan menyesal telah melakukan perbuatan yang tidak baik. Jadi istilah sabar itu ada batasnya hanya karena kita belum bisa ikhlas dalam menerima suatu cobaan. Karena sejatinya sifat sabar akan membuat kita bisa bersifat lebih luas serta melatih rasa ikhlas, dan tentu saja Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar.

3.     3.  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil (Al-Ma’idah : 42)
       Adil yang di maksud di sini mengacu pada beberapa aspek, salah satunya adil terhadap dunia serta akhirat. Yang ini semua berhubungan dengan bagaimana cara kita memanajemen waktu sebaik mungkin. Tidak hanya urusan dunia saja yang di perhatikan, namun urusan akhirat juga tak boleh lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Itulah yang di sebut adil.
Namun kenyataannya banyak orang yang masih mengedepankan urusan dunia dari pada urusan akhiratnya, ada juga yang mengedepankan urusan akhiratnya dan meninggalkan urusan dunia. Hal-hal semacam itu adalah termasuk perbuatan yang tidak adil. Lalu bagaimana adil itu?
Pengertia adil sendiri dalam KBBI adalah “sama berat, tidak berat sebelah” dengan kata lain cara kita agar bisa berbuat adil adalah melihat dari kedua aspek tersebut lalu melakukannya dengan dosis yang seimbang. Kita melakukan urusan dunia kita, kemudia urusan akhirat pun juga tetap harus di laksaakan. dalam ilmu medis, saat kita melakukan urusan dunia kita dan di barengi dengan tidak meninggalkan urusan akhirat maka dalam melaksanakan urusan dunia itu kita akan terhindar dari stress, serta saat melaksanakan urusan dunia itu akan terasa nyaman dan menyenangkan.
        “saya sudah melaksanakan kewajiwan yang menjadi urusan akhirat namun dalam menjalani aktivitas pekerjaan masih sering merasakan stress dan tertekan”. Apa penyebabnya?
Mungkin dapat di lihat sampai mana tingkat keikhlasan kita dalam menjalankan ibadah kepada Allah sebagai kewajiban akhirat tersebut. Tujuan lain dari beribadah kepada Allah adalah untuk menentramkan jiwa manusia setelah penat melakukan aktivitas duniawi. Kita ambil contoh dengan melaksanan shalat, apa manfaat shalat itu? Sangat banyak sekali untuk jiwa maupun raga seseorang, namun terkadang kita melaksanakan shalat itu bukan karena kebutuhan melainkan hanya untuk mengugurkan kewajiban saja. Namun jika tidak, saat kita usai melaksanakan shalat bagaimana rasanya? Tentram. Damai. Hati terasa ringan, dan sebagainya. Itu hanya sebagian dari apa yang menjadi kewajiban dalam hal akhirat. Untuk itu adil dalam hal ini adalah dapat membagi waktu antara urusan dunia dan urusan dengan Allah. Jika dosis yang dilakukan seimbang maka akan membawa ketentraman jiwa serta termasuk dalam golongan yang di sukai Allah.

Itu tadi adalah beberapa golongan yang di sukai Allah, sebenranya masih ada beberapa golongan lagi namun insyaallah akan saya bahas di kultum selanjutnya.
Cukup sekian dari saya, jika ada salah dalam saya menyampaikan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
WASSALAMU’ALLAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar