ASSALAMU’ALAIKUM
WARAHMATULLAHI WABARAKATUH
Alhamdulillah pertama-tama mari kita panjatkan rasa syukur
kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayahnya kita masih di beri
kesempatan untuk berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Tak
lupa shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW, sahabat,
keluarga, dan umatnya yang insyaallah termasuk kita semua. Amin.
Pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan kultum yang
berjudul ‘’TIPE ORANG YANG DI SENANGI
ALLAH’’
Allah merupakan dzat yang maha kuasa, tidak ada suatu mahluk
pun yang dapat menandingi kekuasaan-Nya karena sejatinya semua mahluk yang ada
di alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT, mulai dari yang dapat kita lihat
seperti tumbuhan, hewan, manusia, benda-benda mati. Hingga yang bersifat ghaib
seperti malaikat, syetan, surga, neraka dan masih banyak lagi lainnya.
Allah juga merupakan dzat yang maha mengasih lagi maha
penyayang seperti yang sudah di tuliskan dalam surah Al-fatikhah. Tidak peduli
orang itu muslim atau kafir, allah tetap memberi dan menyayangi mereka.
Namun ada golongan-golongan orang yang di senangi oleh
Allah, lalu golongan-golongan yang seperti apa yang di sukai oleh allah
tersebut?
1. 1.
“Dan
Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan” (Ali imran : 134)
Berbuat baik itu mudah bagi kebanyakan
orang, namun yang perlu kita perhatikan adalah apa landasan kita berbuat baik
tersebut. Apakah hanya untuk pamer kepada orang-orang di sekitar kita? Apakah
hanya untuk mendapat pujian? Ataukah karena ada seorang yang spesial sedang
melihat kita? Tentu hal yang demikian itu bukanya di senangi Allah melainkan
malah tidak di sukai Allah. Luruskan niat dalam berbuat baik hanya untuk
mendapat ridho Allah, berbuaat baiklah kepada siapa saja tanpa memandang siapa
orang itu. Kemudian berbuat baiklah kepada orang yang jahat kepada kita, hal
itu memang sulit. Namun itulah sebenarnya kebaikan sejati yang sangat di
senangi oleh Allah.
Bila kita ingat, Rasulullah dulu sering di
ludahi oleh seseorag yang tidak senang dengan Beliau, setiap hari jika
Rasulullah lewat ke jalan yang sama pasti mendapat perlakuan yang sama dari
orang tersebut. Namun Rasulullah tetap tenang dan tidak menanggapi, hingga tiba
saat orang yang sering meludahi Rasulullah tersebut sakit dan Rasulllah
menjenguk orang tersebut. Betapa kaget bercampur malu orang tersebut karena dia
yang selama masa sehatnya di lakukan untuk berbuat jahat kepada Rasulullah
namun yang di lakukan Rasulullah malah sebaliknya. Itu merupakan contoh yang
sangat baik untuk kita terapkan dalam kehidupan kita. Berbuat baiklah kepada
seseorang meskipun orang itu jahat kepada kita.
2. 2. “Dan Allah mencintai orang-orang yang
sabar” (Ali imran : 146)
Sabar itu adalah istilah wajib untuk setiap
muslim, karena ada istilah “orang sabar di sayang Allah” dan istilah itu
memanglah tidak main-main. Namun kita juga sering mendengar kata “sabar itu ada
batasnya”, setelah mengucap kata itu biasanya seseorang yang awalnya sabar jadi
tidak sabar, dan melampiaskan ketidak sabaranannya itu seolah rasa yang tadinya
dia simpan sebagai perwujudan sabar hanya untuk mengumpulkan emosinya kemudian
di curahkan saat dia bilang “sabar ada batasnya”. Namun tentunya kita bisa
memahami bahwa kata sabar itu adalah tidak terbatas, jadi kalau kita bilang
“sabar itu ada batasnya” maka dalam hal itu kita belum bisa dikatakan sebagai
orang yang sabar.
Seperti dalam kisah Rasulullah dan seorang
yang meludahi beliau tadi. Kejadian itu berulang tidak hanya sekali, namun
berkali-kali. Lalu apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau hanya membiarkannya
sebagai perwujutan rasa sabar, sampai kapan? Sampai tiba waktunya menuai sabar yang kita lakukan. Jika sabar ada
batasnya tentu dalam kisah tadi Rasulullah tidak tahan dan membalas orang
tersebut. Namun karena sabar itu tak terbatas, hingga tiba saat dimana Beliau
menuai hasil sabarnya itu saat seseorang itu merasa malu dan menyesal telah
melakukan perbuatan yang tidak baik. Jadi istilah sabar itu ada batasnya hanya
karena kita belum bisa ikhlas dalam menerima suatu cobaan. Karena sejatinya
sifat sabar akan membuat kita bisa bersifat lebih luas serta melatih rasa
ikhlas, dan tentu saja Allah sangat
menyukai orang-orang yang sabar.
3. 3.
“Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang adil (Al-Ma’idah : 42)
Adil yang di maksud di sini mengacu pada
beberapa aspek, salah satunya adil terhadap dunia serta akhirat. Yang ini semua
berhubungan dengan bagaimana cara kita memanajemen waktu sebaik mungkin. Tidak
hanya urusan dunia saja yang di perhatikan, namun urusan akhirat juga tak boleh
lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Itulah yang di sebut adil.
Namun kenyataannya banyak orang yang masih
mengedepankan urusan dunia dari pada urusan akhiratnya, ada juga yang
mengedepankan urusan akhiratnya dan meninggalkan urusan dunia. Hal-hal semacam
itu adalah termasuk perbuatan yang tidak adil. Lalu bagaimana adil itu?
Pengertia adil sendiri dalam KBBI adalah
“sama berat, tidak berat sebelah” dengan kata lain cara kita agar bisa berbuat
adil adalah melihat dari kedua aspek tersebut lalu melakukannya dengan dosis
yang seimbang. Kita melakukan urusan dunia kita, kemudia urusan akhirat pun
juga tetap harus di laksaakan. dalam ilmu medis, saat kita melakukan urusan
dunia kita dan di barengi dengan tidak meninggalkan urusan akhirat maka dalam
melaksanakan urusan dunia itu kita akan terhindar dari stress, serta saat
melaksanakan urusan dunia itu akan terasa nyaman dan menyenangkan.
“saya sudah melaksanakan kewajiwan yang
menjadi urusan akhirat namun dalam menjalani aktivitas pekerjaan masih sering
merasakan stress dan tertekan”. Apa penyebabnya?
Mungkin dapat di lihat sampai mana tingkat
keikhlasan kita dalam menjalankan ibadah kepada Allah sebagai kewajiban akhirat
tersebut. Tujuan lain dari beribadah kepada Allah adalah untuk menentramkan
jiwa manusia setelah penat melakukan aktivitas duniawi. Kita ambil contoh
dengan melaksanan shalat, apa manfaat shalat itu? Sangat banyak sekali untuk
jiwa maupun raga seseorang, namun terkadang kita melaksanakan shalat itu bukan
karena kebutuhan melainkan hanya untuk mengugurkan kewajiban saja. Namun jika
tidak, saat kita usai melaksanakan shalat bagaimana rasanya? Tentram. Damai.
Hati terasa ringan, dan sebagainya. Itu hanya sebagian dari apa yang menjadi
kewajiban dalam hal akhirat. Untuk itu adil dalam hal ini adalah dapat membagi
waktu antara urusan dunia dan urusan dengan Allah. Jika dosis yang dilakukan
seimbang maka akan membawa ketentraman jiwa serta termasuk dalam golongan yang
di sukai Allah.
Itu tadi adalah beberapa golongan yang di sukai Allah,
sebenranya masih ada beberapa golongan lagi namun insyaallah akan saya bahas di
kultum selanjutnya.
Cukup sekian dari saya, jika ada salah dalam saya
menyampaikan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
WASSALAMU’ALLAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH